Event, National

Nasib anak-anak dan perempuan pengungsi Rohingya di Aceh

2 344
Zukhratun bersama ke-empat anaknya

Uruzonot anak-anak etnis Rohingya belum genap berusia dua tahun tampak gembira bermain bersama kakaknya Mohamad Riyas (3 tahun) di tempat pengungsian di Pelabuhan Kuala Langsa Aceh. Sementara kakak tertua mereka Arizan Fatimah, 7 tahun, tak berhenti tersenyum setelah menerima pemberian rok berwarna pink bergambar putri dari film kartun Disney.

Ibu mereka Zuhrakhatun, 25 tahun, mengatakan sambil menatap lega, anak-anaknya tampak lebih gembira setelah sampai di Aceh.

“Anak-anak selalu menangis dan tidak nyaman,” paparnya mengisahkan pengalaman di perjalanan dengan kapal yang membawa mereka dari Myanmar.

Diancam dibuang ke laut

Mereka bertolak dari Myanmar bulan lalu, untuk menyusul suaminya yang sejak dua tahun lalu bekerja di Malaysia. Selama dalam perjalanan dia mengaku anak-anaknya sering mendapatkan ancaman dari kru kapal.

“Kami tidak cukup makan dan minum. Dan ketika meminta makan, kapten mengancam akan membuang mereka ke laut.”

Kapal mereka sempat ditolak masuk Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia ketika masuk ke perbatasan kedua negara. Selama empat hari mereka terombang-ambing di lautan, dalam kapal yang disebutkan sudah ditinggal oleh kaptennya.

Kini mereka menempati sebuah gudang di pelabuhan yang dijadikan tempat pengungsian. Di depan gudang didirikan tenda untuk pos kesehatan.


Umahay kehilangan suami dan tiga anaknya dalam konflik di Rakhine, Myanmar.

Di dalam tenda tampak Rukiah Hatu (20 tahun) terus tersenyum setelah kembali bertemu dengan bayinya Muhamad Mahi yang berusia empat bulan, yang sempat hilang sejak semalam. Pada Jumat pagi, Rukiah sempat menangis histeris mencari anaknya.

Petugas posko kesehatan mengatakan Mahi sempat dibawa oleh penduduk ketika proses evakuasi terhadap pengungsi berlangsung sejak Jumat pagi.

Penjagaan tempat pengungsian pun tampak diperketat, untuk menghindari kejadian serupa.

Menurut data sementara pos pengungsian di Kota Langsa, jumlah anak-anak pengungsi mencapai 63 orang dan 76 perempuan.

Konflik di kampung halaman

Perempuan dan anak-anak Rohingya yang hampir mencapai jumlah 140 orang ini merupakan kelompok pengungsi kedua yang terdampar di Aceh. Sebelumnya ratusan pengungsi Rohingya tiba di Aceh bagian utara pada Minggu (10/05).

Mereka kini menempati tiga bangunan di Tempat Pelelangan Ikan Kuala Cangkoy, Aceh Utara.


Kalau minta makan, kapten mengancam untuk membuang anak-anak ke laut.

Di lokasi pengungsian ini, saya bertemu dengan Umahay, 25 tahun, yang kehilangan suami dan tiga anaknya dalam konflik di Rakhine Myanmar. Dia mengatakan akan menerima risiko perjalanan melalui lautan untuk bertemu dengan ayah dan saudara laki-lakinya yang berada di Malaysia.

“Lebih baik saya meninggal di laut daripada di kampung halaman tidak ada yang dapat saya kerjakan,” tegasnya.

“dan saya selalu teringat anak-anak saya.”

Ribuan orang pengungsi diperkirakan masih berada di perairan setelah berangkat dari Thailand, diantara merupakan perempuan dan anak-anak.

About the author / 

Adara Relief International

2 Comments

  1. Johne62 September 6, 2017 at 11:33 pm -  Reply

    Thanks so much for sharing this excellent info! I’m seeking forward to see much more posts! eefebfccbedb

    • Adara Relief International December 1, 2017 at 8:52 pm -  Reply

      thanks for your attention to ourwebsite

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment

Head Office:

Gedung Orange
Jl. Loka Indah 1, Mampang - Jakarta Selatan
0812 1347 6745 (Ibu Nurul)

Close