Perempuan Penulis Peradaban3
International

Perempuan Penulis Peradaban

2 194

Perempuan Penulis Peradaban

Perempuan sesungguhnya adalah penulis peradaban. Ia juga merupakan tiang-tiang penyangga peradaban. Maka tak heran hingga ada sebuah peribahasa dalam khazanah dunia Islam yang menyatakan bahwa “perempuan adalah tiang negara.” Bangun dan jatuhnya sebuah negara ditentukan bagaimana perempuannya. Bagaimana cara mereka dalam mendidik anak-anak, sebagai estafet keberlanjutan sebuah peradaban.

Perempuan Palestina adalah contoh ideal jika tidak ingin dikatakan sempurna, tentang contoh perempuan penyangga peradaban. Tentang bagaimana keteguhan dan keikhlasan para ibu dalam mendidik anaknya. Meski tak berada di lingkungan ideal. Meski berada di bawah desingan suara senjata, hujan bom dan tekanan militer Israel. Para ibu di Palestina mampu mendidik dan menghasilkan anak-anak pemberani, pembela ibu pertiwi.

Mereka sadar dan paham benar, bahwa tugas utama perempuan adalah sebagai pendidik generasi. Mereka paham bahwa di tangan merekalah titik tonggak keberlangsungan generasi. Namun sebelum itu semua, para perempuan harus mendidik dirinya sendiri agar menjadi pribadi yang mencintai Allah SWT dan membuktikan kecintaannya dengan tadhiyah (pengorbanan) dan jihad. Ia juga harus menanamkan keikhlasan dan niat yang baik. Karena itulah titik pangkal kemenangan.

Perempuan Penulis Peradaban1

Sehingga setelah itu terwujud dalam dirinya, para perempuan akan mampu melahirkan pribadi yang penuh keikhlasan dan pengorbanan sebagaimana salah satu sahabat terbaik Rasul ‘Khalid bin Walid’. Keberanian, keperkasaan dan pengorbanannya tak diragukan. Pedangnya selalu ‘menyalak’ di peperangan, hingga ia dijuluki sebagai ‘Pedang Allah yang Terhunus’. Ia juga menjadi panglima pasukan Islam yang selalu merebut kemenangan.

Meski selalu tampil sebagai pemimpin di medan laga, keihklasan Khalid tak diragukan. Ia yang selalu menjadi panglima hampir di setiap medan laga pertempuran, tak menolak atau protes ketika Umar bin Khattab menggantinya dengan Abu Ubaidan bin Jarah. Tak ada kata kecewa, apalagi murka yang meradang. Semuanya diterima dengan lapang dada. Ia taat kepada pemimpin, bahwa ia berujar, “Bendera kepemimpinan selanjutnya akan diterima oleh orang terpercaya umat ini.”

Keikhlasan Perempuan Palestina

Para perempuan Palestina adalah contoh nyata aplikasi dari pengorbanan yang dibalut dengan keikhlasan. Adalah ummu Nidhal sebagai salah satu contoh karakter ini. Ia dijuluki sebagai ‘Khansa Palestina’ karena mempersembahkan tiga orang putranya : Nidhal, Murad dan Muhammad, untuk syahid sebagai pejuang.  Putra pertamanya merupakan orang pertama yang mampu membuat roket di Gaza. Adapun Murad merupakan penjaga barisan terdepan dalam menghadapi Zionis. Kepada putranya yang bernama Muhammad, di usianya yang baru 14 tahun, ia mengalungkan senjata dan memberikan pesan, “Jangan kembali sebelum menemui syahid.”

Perempuan Penulis Peradaban4

Pesan sang ibunda dilaksanakan dengan sepenuh jiwa. Ia kembali ke ibundanya dalam keadaan syahid. Mengenai keadaan yang menimpanya, dalam sebuah wawancara di radio, ia berujar, “Jika ini adalah penyebab ridho Allah, maka saya memilih kehidupan yang abadi dan kekal.” Meski ia tidak memungkiri ada rasa sedih yang tertinggal di hati.

Tidak sampai disitu. Hasratnya untuk menjadi perempuan penulis peradaban tidak terhenti kepada anak-anaknya. Ummu Nidhal juga menjadi ibunda dari para murabith (penjaga yang menjaga Palestina di garda terdepan). Beliau kerap mengunjungi tempat-tempat ribath (berjaga) untuk membagikan makanan yang dimasaknya sendiri kepada mereka-mereka yang sedang bertugas.

Sejatinya jika diperbolehkan, ia ingin menjadi bagian dari mereka. Berjaga untuk membela Palestina. Oleh karenanya sebagai bentuk keinginannya yang mendalam, Ummu Nidhal berkeliling untuk membagikan makanan kepada mereka. Melalui makanan yang dibuatnya, ia ingin hadir membersamai para murabith dalam berjaga.

Perempuan Penulis Peradaban3

Adapula kisah heroik lain mengenai kekuatan pengorbanan perempuan Palestina dari Sanah Qudaih, seorang perempuan Palestina berusia 22 tahun dengan empat orang anak.  Ketika rumahnya diserang oleh Zionis yang ingin menangkap suaminya, ia tidak tinggal diam. Setelah menyembunyikan keempat anaknya di tempat yang aman, ia ikut mengusung senjata untuk membantu suaminya. Ia menembak para zionis dari jendela rumahnya. Suaminya sendiri dengan berbekalkan bom di tubuhnya, meloncat ke arah tentara Zionis yang mengepung rumahnya hingga akhirnya mati syahid. Sanah tidak berhenti. Ia terus melakukan perlawanan. Hingga akhirnya sebuah helikopter menjatuhkan sebuah bom di atas rumahnya.

Perempuan Palestina lain yang tak kalah heroiknya adalah Ummu Zahron. Kala itu ia tengah membuat makanan di rumahnya. Ketika mendengar terjadi bentrokan di Al Quds, ia meminta anaknya untuk meneruskannya membuat masakannya, sebab ia ingin pergi ke sana. Ia berpesan, bahwa jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka hingkanlah makanan tersebut sebagai ungkapan syukur atas kesyahidannya. Demikianlah yang dicita-citakannya, ia menjumpai syahid dalam bentrokan tersebut dan makanan yang dibuatnya menjadi penghantar perayaan syukuran atas kesyahidannya.

Perempuan Penulis Peradaban

Lalu bagaimana kita? Bagaimana kita yang menumbuhkembangkan anak-anak kita dalam keadaan yang damai, aman dan tentram juga berkecukupan. Sudahkah mampu menghadirkan kecintaan kepada Allah SWT dalam mendidik anak-anak kita? Sudah mampukah mendidik agar anak-anak kita dipenuhi dengan tadhiyah (pengorbanan) dan keihkalasan kepada Tuhan-nya?

Bagaimana kita? Sudahkah kita menjadi peribadi yang mencintai Rabb pemilik semesta dengan sebenar-benar cinta? Sudahkan kita berkorban dengan penuh keikhlasan untuk Tuhan kita? Sudahkah kita mendidik diri kita, dengan sebenar-benarnya, agar menjadi sebaik-baik perempuan penulis peradaban.

Sudahkah kita, jika mungkin terlampaui tinggi jika disandingkan dengan Ibunda Khadijah, Maryam atau Aisyah, mendidik diri-diri kita agar setidaknya seperti perempuan di Palestina? Mereka mengikhlaskan, suami, anak-anak bahkan diri sendiri untuk berkoban di jalan-Nya. Sudahkah kita?

*Disarikan dari kisah yang disampaikan oleh Sumayyah, seorang perempuan Palestina pada tanggal 7 Februari 2018).

About the author / 

Adara Relief International

2 Comments

  1. Amazing Proxies September 13, 2019 at 7:24 am -  Reply

    very nice put up, i actually love this website, keep on it

    • Adara Relief International October 14, 2019 at 5:01 pm -  Reply

      sure, thank you for supporting us!

Reply Cancel

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Head Office:

Gedung Orange
Jl. Loka Indah 1, Mampang - Jakarta Selatan
0812 1347 6745 (Ibu Nurul)

Close